Senin, 08 Februari 2016

Diantara Bunga Sakura



Dipersimpangan ini,
dulu kutanam bunga sakura yang ku pilih dari biji terbaik yang kutemukan.
Biji terbaik dari bibit yang terbaik.
Kini telah terlihat tingginya yang menjulang, 



akupun tidak sampai lagi untuk menggapai dahanya yang dulu bisa kugenggam dan daunya yang kecil lagi imut.



Maafkan aku sakura kecil.
Aku tahu bunga sakura selalu indah.

Ia tidak perna sedikitpun berpikir akan dirinya sendiri.
selalu menebarkan keindahan dan berkorban untuk manusia.
 

Aku selalu menunggu bunga sakura indah sepertimu.

Tetapi,
Cerita ini terlalu lama aku habiskan bersama pohon sakura, dari sakura kecil. Daun-daunnya mulai tumbuh.. 

musim yang berganti... 
bunga-bunga yang bermekaran...
dan sampai ia akhirnya berguguran.



Dan akupun berharap bunga yang indah sepertimu bisa menjadi biji sakura yang subur dan bertemu dengan tuan yang baik hatinya.
yang bisa membuatmu menjadi sakura dewasa.


Jangan menangis sakura kecil,
Aku tahu mengapa Allah menciptakanmu.

Allah telah memilihmu, menjadikan dirimu kuat.
Sakura yang bisa mandiri, Sakura yang mengasilkan bunga-bunga yang indah.

Sakura yang ditunggu pada musimnya dan sakura yang selalu membahagiakan.


Minggu, 31 Januari 2016

MENGAPA ORANG TUA SELALU SEPERTI INI, SELALU BANGGA TERHADAP ANAKNYA




Begitulah orang tua, selalu bangga dengan anaknya.
Tanpa kita sadari ataupun kita sadari sekalipun, orang tua tetaplah begitu selalu membangga-banggakan dan senang bercerita tentang anaknya. Inilah naluri ketulusan orang tua kepada sang anak.
Tetapi kebanyakan dari kita mengapa kita tidak perna mencoba memahami hal tersebut? Mengapa?
Ini bukan berbicara masalah pujian oleh orang tua tehadap anak, tetapi pertanyaannya mengapa harus membangga-banggakan anaknya?

Ketika Sekolah dasar, ada Orang tua selalu bangga dengan anaknya ketika anaknya mendapatkan nilai rata-rata 6 ataupun 7, padahal anak yang lain banyak yang mendapatkan nila rata-rata 8 ataupun 9. Yang terpenting bagi orang tua adalah bahwa anaknya tidak memiliki nilai rapor merah ataupun anaknya tidak naik kelas  seperti anak yang lainnya.

Ketika disaat sang anak menginjakan kakinya di perguruan tinggi, ada orang tua selalu bngga dengan anaknya yang kuliah di perguruan tinggi Swasta dan tanpa beasiswa untuk kuliahnya, tetapi padahal disekitarnya bnyak anak-anak yang bisa kuliah di perguruan tinggi negri yang bagus serta ada sebagian anak yang bisa kuliah di luar negri dan memiliki beasiswa untuk pendidikan. Ini lah orang tua, yang terpenting baginya ialah, sang anak bisa kuliah dengan baik dan memiliki pendidikan, pengetahuan serta tidak bernasib sama dengannya.

Dan juga ada orang tua yang bisa merasa senang dan bngga ketika didalam pergaulan anaknya hanya merokok dan tidak minum-minuman keras, narkoba dan mencuri padahal disekitarnya masi banyak anak-anak yang bertingkah baik, sopan, soleh dan tidak merokok.
Bagi orang tua, yang terpenting baginya iyalah pergaulan, perilaku anaknya tidak rusak dan tidak melakukan tindakan kriminal lainnya seperti yang dilakukan orang lain.
Masi banyak contoh-contoh yang lainnya tentang kebanggaan orang tua terhadap anaknya.
Ini lah orang tua kita.
Sebagai seorang anak marilah kita mencoba memahami hal ini.
Apa adakah perasaan dari kita untuk membahagiakan mereka lebih dari ini?
Yang secara pasti mereka selalu membangga-banggakan anaknya, inilah rasa cinta dan ketulusan orang tua terhadap anaknya.
Serta Sebagai penghibur dan penyemangat dalam kehidupan dalam aktivitas keseharian di usia tuanya untuk sang anak.

Selasa, 22 September 2015

Gula Rian yang hilang

Arie Anggara Jambi
Malam itu Rian berdiri tegar walaupun dinginnya malam yang semakin perlahan semakin menusuk pori-pori yang ada ditubuhnya, tas ini masi disandangnya dan tas kecil ini masi dipegangnya.

Kecerian di wajahnya terlihat, canda tawanya terhanyutkan saat duduk dan bercngkrama bersama.

Lelah yang Ia alami hilanglah suda ketika bersama, melihat wajah-wajah sayu masa depan dan Ia bangga bisa berada di antara mereka, kepintaran mereka memacunya untuk mengiringi dan mengikuti mereka.

Tangannya tak hentinya mencatat akan ilmu-ilmu yang terurai dari bibir dan catatan-catatan yang ada di depan.


Arie anggara Jambi
Pagi itu begitu dingin untuk Rian rasakan, namun motivasi semangat lingkungan mendorongnya untuk seperti mereka. Sesekali Rian mencoba untuk bernyanyi yang terkadang ia tidak tahu lagu itu untuk siapa Rian ungkapkan.




Arie Anggara Jambi


Hatipun berdetak melihat senyuman yang berada diantara kepala-demi kepala itu.


Sesekali Ia mencoba untuk menundukkan kepala, namun kekutan di hatinya begitu kuatnya dan hal ini hanya dua kali Rian rasakan.

"Subhanallah" terucap di hati Rian, Ia melihat wajah optimis dan tenang terpancarkan dan terlihat langkah di zaman sekarang.

@ArieAnggara28
https://www.facebook.com/arie194

Rabu, 20 Mei 2015

Kenapa Kita Seperti Ini, Buta Hati?

Berbicara kekurangan dan atau keterbatasan pasti tidak ada habisnya.

Tetapi sebagai mana kita menjadikan kebahagian itu merupakan dari keterbatasan yang kita miliki !

Kebahagiaan tidak ada ruang dan waktu. Kebahagiaan tidak hanya dimiliki oleh orang-orang yang kaya, memiliki gedung yang banyak, Pendidikan yang tinggi dan berpangkat. Kita sendiri bisa menciptakan peluang dan potensi kebahagiaan itu. Seperti adanya harapan, keinginan, dan kebutuhan.

Kita perna melihat orang yang secara fisiknya tidak sempurna seperti orang lainnya. Tetapi mereka masi bisa tersenyum, bercanda, menyapa dan lain-lainnya. Mereka tidak perna bercerita keterbatasan yang miliki, seolah-olah mereka berbicara bawha mereka baik-baik saja.

Tetapi mengapa kita selalu mengeluh, buta hati, gelap mata, dan merasa kekurangan ?

Senin, 04 Mei 2015

RENI, BUNGA DESA YANG LAYU



Reni bunga simerah bersinar.
Polos merona bersandar kemaluan.
Menggoda kaku diatas tangkai.
Siap dipetik siapa saja.

Dirampas, disentuh sikumbang jalang.
Kumbang berganti kebunga lain.

Berharap diri di temani Vas.
Kini kelopak memaksa gugur.
Menghitam layu tak lagi merah.
Kini bunga kesepian.
Tertutup malu dibalik dedaunan.

Meratap hari degan kesedihan.
Kini Reni sibunga malang.

S
eorang gadis desa yang cantik dan polos, namanya Reni yang sedang menginjakkan kakinya di kelas 2 SMA.

Karna terlalu polos dan dangkal untuk memaknai cinta, Reni terpengaruh cinta yang salah.
Dalam kehidupan sehari-hari baik di sekolah dan di desa, Reni selalu digoda baik teman-teman sekolah, lingkungan desa dan dimanapun Reni berada. Tak jarang yang menggodai Reni adalah pemuda ganteng, manis dan anak orang kaya.
Karna baru pertama mengenal cinta, Reni mulai bermain api yang ada ditangannya.
Karna sangat mencintai Rizal, Setiap ajakan Rizal, Ia selalu bersemangat untuk mengikutinya dan jarang untuk mengeluarkan kata-kata “tidak” ataupun “tidak bisa”.
Hingga terlalu asik bermain cinta, Reni tidak bias mengendalikan api cinta yang Ia pegang, Rizal merampas mahkotanya yang Ia jaga.
Tak berasa gantian bulan dan hari-hari yang dilalui, perut yang di bopong Reni semakin berisi dan besar.
Sekarang orang-orang tidak lagi memandang Reni sebagai anak yang rajin, sopan, dan selalu mengikuti kajian keagamaan yang ada dilingkungannya.
Kemanisan kata-kata Rizal tidak perna lagi Ia dengar dan tidak lagi menampakan diri.
Kini Reni sendirian.