Rabu, 24 Juni 2020

Ubak: Seseorang yang Memuliahkan orangtuanya

Desiran suara kipas angin yang berputar dan tergantung tepat diatas kepala di dalam kamar. suara kipas angin ini selaras dengan suara Ubak, aku berbaring di kasur sambil mendengar lirih suara Ubak.
"Kamu kalau mau mencari teman hidup, carilah yang sayang sama orang tua terkhusus kedua orang tuanya sendiri, mungkin saat Ubak tua nanti, kalian yang mengurus Ubak"

Kata-kata sederhana ini membuat ku merenung beberapa detik, menarik aku kewaktu dimasa Kanak-kanak hingga Remaja.

***
Saat kecil, ketika SD aku sempat menginjakan kaki di Tiga SD yang berbeda. sebagai anak kampung ini jarang dilakukan. Pertama, SD Mersip Desa Bukit Bulan Tempat Umak mengajar, desa Terdepan di Kab. Sarolangun, Hingga Kelas 3 SD. Kedua, SD Muara danau tempat kelahiranku dan kelahiran Ubak yang berjarak 6 KM dari Kab. Sarolangun. Karna ada permasalahan perselisihan Umak dan Ubak, Aku sempat belajar, hanya satu hari di SD desa Pulau Pandan, SD dimana Umak belajar. dan akhirnya Ubak datang meminta kami kembali Ke SD 39 Muara Danau.
"Mak, kalau pindah-pindah sekolah lagi, aku berhenti sekolah sajah la ya", sahutku saat di ajak kembali ke SD muara Danau.

Semasa itu, ketika perkenalan anak Baru sekolah baik di tingkat SD, SMP, SMA hingga Dewasa saat ini.
pertanyaan mengenai Nama "Arie anggara" pasti bukanlah hal yang asing bagiku.


"Kamu Arie yang artis itu ya, tidak nyangka kamu sudah besar".
"Kamu anak tiri itu ya".

Aku selalu tersenyum dan menjawab polos "bukan Bu/ Pak, itu Arie Hanggara, kalau Saya Arie Anggara".

karna pertanyaan asing ini aku penasan. Semasa SD dan SMP, aku hanya bendengar dari mulut-kemulut cerita tentang Arie Hanggara ini.
semasa SMA aku mencoba mencari tahu lewat Internet.
Akhirnya aku sempat menonton lewat DVD yang kebetulan dibelikan oleh Umak, film Arie Hanggara.
Kisah nyata yang dijadikan film, yang berceritakan Seorang anak kecil yang aktif dan nakal, nakalnya anak-anak yang aktif yang disiksa oleh orang tuanya hingga meninggal.
Usut punya usut, Ubak tertarik menamakan ku Arie anggara karna berdasarkan film ini.


Semasa Kecil, Umak selalu berkunun (Dongeng) Kepada kami, aku dan adikku Ayu sebelum kami terlelap tidur. Tidak jarang Ayu selalu meminta kunun kepada Umak, sesekali aku kesal kepada Adikku Ayu, pastinya Umak berkunun tentang cerita yang nuansanya pasti aku tebak.
Kunun yang diceritakan ya pasti tidak jauh-jauh dari kisa sedih, seperti Anak Yatim piatu, Anak tiri hampir sama ceritanya dengan Bawang merah dan Bawang putih, malin kundang anak yang durhaka kepada Ibunya, anak yang di telantarkan akhirnya dirindukan ketika Ia pergi kehutan, dll.

Tidak jarang ketika dipertengahan cerita, aku memalingkan diri dari umak, menutup muka dengan bantal, menangis terseduh-seduh mendengar cerita umak.

sesekali terbangun ditengah malam sambil menangis, teringat kunun Umak. ubak yang heran berusaha menenangkan, dan Bertanya "kenapa kamu Nak".

"Bak, besok ketika kita mati (meninggal), kita minta (doa) sama Allah, kita dipertemukan lagi dan dikembalikan ke dunia ini lagi Bak".

Selama Kanak-kanak hingga remaja umak selalu bercerita tentang malin kundang yaitu anak durhaka yang merantau ke negeri orang, ketika sukses lupa kepada orang tuanya dan akhirnya disumpah menjadi batu.

Saat ingin melanjutkan pendidikan kulilah di negeri orang, umak dan ubak tidak mengizinkan untuk kepulau jawa, apalagi pergi ke Ibu kota Jakarta.
Umak beralasan takut  saya menjadi malin kundang, ya malin kundang lagi hee.

disisi lain bingar-bingar gemerlap ibu kota, kriminalitas di Ibukota menjadi alasan yang utama.
"Nanti pas kamu minum dan makan, temanmu memasukan narkoba keminumanmu", sahut umak.
" selanjutnya lupa sama umak, adik-adik, jadi malin kundang".

Ya malin kundang lagi fikirku, "Mak, kalo saya menikah dengan orang papua gimana, biar jauh, disanakan sudah banyak orang sumatra", sahut ku.

"Na, bagus biar umak bisa ke papua", "na Iya papua", jawab melani adik yang paling kecil.
akupun heran mendengarkan celotehan mereka.

***
Sambil memejamkan mata, Akupun tersadar kembali pesan singkat dari Ubak melalu handphone.
"Mencari pasangan hidup yaitu dengan seseorang yang memuliahkan kedua orang tuanya".
Kata-kata ini terus berputar di dalam benakku.

Seseorang yang bisa memuliahlan kedua orang tuanya, tidak berkata kasar, lemah lembut, suka membantu orang tuanya sendiri.
ini akan terpancar ke akhlaknya, aktifitas hari-harinya, termasuk ke orang tua yang lain.

Aku mencoba berfikir cara fikir sederhana Ubak yang kian hari kian menua. harapan orang tua ketika telah menua, lemah dan rapuh ingin di rawat oleh anak-anaknya.

Merawat orangtua ketika tua dan rentah merupakan ibadah tersendiri untuk anak-anaknya dan sebuah proses pembelajaran hidup untuk anak-anak dan keturunan selanjutnya serta balas kasih sang anak ketika dirawat oleh orangtuanya ketika masih keci.

Semasa kecil, seorang anak dirawat, diberi makan dengan lembut, dimandikan, ditimang, dibelai kasih orang tua, dididik ketika tidak tahu dll.

ketika menua, orang tua lemah layaknya anak-anak yang perlu dibantu saat berjalan, layaknya anak-anak yang perlu dimandikan, kadang dingin untuk mandi, dibantu diberi makan dan disuapi, layaknya anak-anak yang perlu di ingatkan karna dia mulai hilang ingatan.
Akhirnya kita bisa menyadari sebagaimana orang tua kita sabar, ulet dan tekun merawat kita diwaktu kecil hingga dewasa, yang tentu kita tidak bisa membalas jasa kebaikan orangtua selama itu.

Semoga kita menjadi anak yang memuliahkan, berbakti dan merawatnya disaat Ia tua.


=====
note : 
~Seseorang bisa memuliahkan orang tua ketika ia memuliahkan kedua orangtuanya sendiri.

~Sebagian besar cerita real pribadi penulis 😊.

Salam,
Arie Anggara


Senin, 23 Maret 2020

Pandemi Covid 19, Apa yang harus kita lakukan?


Dalam kehidupan baik Jodoh, Rezeki dan Ajal sudah ada yang mengatur.
Pada dasarnya kita tidak usah panik dan takut dalam keadaan Pandemi (wabah dunia) ini.
Kita tidak takut Sama virus Covid 19, kita harus takut atas Allah SWT yang menciptakan Virus ini. Masalah virus ciptaan Allah SWT, yang digunakan untuk Perang Biologi oleh negara tertentu itu lain persoalan.

Jadi Terkait Virus Covid 19 ini, kita tidak mesti panik dan tetapi tidak mesti juga bersantai serta bercanda gurau menyepelekan untuk tidak melakukan apa-apa sebagai pencegahan penularan.
Setidaknya sebagai Iktiar kita kepada Allah SWT atas ujian yang diberikan kepada kita.


Saya pribadi pada dasarnya sadar betul dengan kondisi tubuh diri sendiri.
Ketika saya diberikan ujian terjangkit penyakit flu dan batuk oleh Allah SWT, penyakit ini agak sulit untuk saya sembuhkan dan kadang-kadang bisa melebihi dua minggu lebih.
Tidak heran saya selalu Ceck Up ke puskesmas untuk melakukan Ceck dahak, Darah dan bahkan rongen untuk mengetahui dan kepuasan saya terkait penyebab batuk yang lebih dari dua minggu.

Saya sadar saya lemah untuk penyakit yang berkaitan dengan sistem pernapasan ini, saya bukan berlebiham untuk memproteksi diri untuk selalu menggunakan masker dan bahkan saat tidur. Orang tua paham betul ketika saya sakit Flu dan batuk, saya selalu menggunakan masker didalam rumah dan begitu juga pada saat tidur, Apalagi dengan kondisi saat ini.
Saya sangat bersyukur sekali atas anugrah dan kelebihan yang Allah SWT berikan ini kepada saya.

Didalam dunia pendidikan ada namanya istilah Teori Gunung Es atau Iceberg Theori. Teori ini merupakan instrument yang digunakan untuk mencari akar penyebab sebuah permasalahan. Sebuah Gunung es biasanya yang tampak hanya bagian atasnya, sementara dibawahnya yang tidak tampak justru semakin besar.

Minsyalnya pemerintah melaporkan pasien yang Positiv Covid 19 sekitar 500 an, berdaarkan teori ini (Iceberg Teori), pasien yang tidak terlapor ke pelayanan kesehatan bisah melebihi dari 500.
mungkin 2000 atau bahkan Jutaan.
Hal ini didasarkan masih kurang dan terbatasnya akses dari dan menuju ke pelayanan kesehatan, prilaku masyarakat yang malas bepergian ke pelayanan kesehatan (merasa sakit biasa), minimnya Fasilitas kesehatan, sistem pelaporan yang terbatas dll.

Dan tidak hanya itu, provinsi atau daerah yang terjangkit penyakit ini bisa saja tidak hanya di daerah Jakarta, Bandung, bali dan darah lainnya, yang terlapor oleh pemerintah.
Bisa Jadi, Jambi, Sarolangun -Jambi (TL Saya), Padang, Riau, Aceh, Sulawesi, kalimantan, NTT, Maluku dan bahkan Papua mungkin.
karna sejalan dengan mobilitas pergerakan masyarakat seperti keluar masuk kota, Masa Inkubasi lebih kurang 14 hari,  dan Lamanya virus dapat hidup diluar sell Inang.

Dari sini kita dapat milah apa yang harus dan mesti kita lakukan.

1. kita sering mendengar kata Lockdown, lockdown berfungsi untuk membatasi bergerakan manusia seperti dari daerah tertentu ke daerah lainnya atau dari desa ke kota dan lain-lainnya.
Disini bertujuan untuk mencegah penularan penyakit dari daerah tertentu ke daerah lainnya.
Contoh. Dari Jakarta ke Sarolangun Jambi, Papua dll.

2. Melakukan Isolasi atau karantina pada pasien Covid 19 yang bertujuan untuk mencegah penularan kepada orang lain dan proses penyembuhan bagi seorang pasien Covid 19.

3. Penerapan Perilaku hidup bersih dan Sehat (PHBS) yang bertujuan untuk menjega tertular dari Kuman, Bakteri dan Virus ini. Salah satunya adalah mencuci tangan dengan menggunakan sabun sesering mungkin atau menggunakan Hand sanitaizer. karna tangan adalah jendela masuknya Kuman dan Bakteri ke tubuh kita saat menyentuh pasilitas umum, bersalaman dengan pembawa, memegang binatang, Memegang UANG, saat selesai BAK dan BAB, dan lain-lain.

ketika tangan kotor  terjadi kontak silang pada saat kita menyentuh hidung, mata dan mulut.
Nah disini, selain kita harus sesering mungkin untuk mencuci tangan kita juga harus mengurangi untuk menyentuh area wajah.

selain mencuci tangan kita juga harus sesering mungkin untuk mandi atau bilas.
Selain untuk kebersihan dan kebugaran kita mencega untuk masuknya kuman yang menempel di pakainan, area tubuh kita yang lain seperti rambut dan kaki.
Disini kita juga harus sesering mungkin untuk mencuci pakaian.

4. Menggunakan Masker yaitu mencegah masuknya Virus dan Bakteri melalui saluran pernafasan kita.
Dikarnakan Pandemi (wabah dunia) dan kita tidak tahu orang-orang disekitar kita yang positif Covid 19, kita harus sesering mungkin untuk menggunakan masker.
Disamping itu, inilah kenapa pentingnya menjaga jarak dengan orang lain kurang lebih 1 meter (Social distancing atau social physical).

5. Sebagai tambahan dalam bentuk pencegahan ada baiknya kita memakai barang pribadi untuk keperluan pribadi. Membawa Sajadah pada saat solat berjamaah, menggunakan Helm pribadi saat menaiki Ojek (atau dengan menggunakan masker), Membawa hand sanitizer saat menyentuh fasilitas umum dan Handphone, Melakukan desinfektan lingkungan rumah dengan menggunakan Clorin/ So Klin pemutih sesuai panduan kemenkes/ Dinkes DKI. Selain itu kita juga harus Menjaga kebugaran tubuh untuk meningkatkan daya tahan tubuh, Istirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi dengan ketentuan gizi simbang (Bukan 4 sehat 5 sempurna).

Usaha pencegahan ini tidak cukup hanya dilakukan oleh Pemerintah,  Lembaga Swasta, dan Lembaga sosial lainnya.
Ini perlu usaha bersama, ini saatnya kita tunjukan Kegotoroyangan serta kekompakan kita Sebagai warga Negara Indonesia dengan saling bahu membahu.
Yang kaya membantu yang membutuhkan, yang pintar membantu memberi informasi yang baik dan benar.
Kita bantu Para Dokter, Perawat dan tenaga medis lainnya untuk tidak TERTULAR dan berbaring di Rumah Sakit karena Covid 19.

Jadilah pahlawan untuk keluarga, anak dan Negara.
Tulisan ini saya buat untuk pengabdian saya sebagai Sarjana Kesehatan Masyarakat.

---
Masa Inkubasi : Lama waktu yang dibutuhkan oleh Virus Covid 19 untuk menunjukan gejalah sakit pada Inangnya (lebih kurang 14 hari)

Inang : Host atau orang yang terinfeksi Covid 19 ini.

~ Arie Anggara, SKM

Minggu, 15 Maret 2020

Apakah kita tidak belajar dan memahami dari Penomena Novel Corona atau Covid 19 ini?

Allah SWT tunjukan satu makhluk-Nya yaitu virus CORONA atau Covid 19 (Corona Virus Diseas 2019). Kita berbondong memakai masker bak Ninja, memakai hand sanitaizer untuk terhindar dari Corona.

Kita tidak ingin bersalaman bukan berarti Tidak mahram ataupun radikal melainkan takut tertular Virus melalui kontak Tangan.

Dan masih ada saja orang-orang yang berniat untuk mendapatkan keuntungan dengan menimbun, menjual mahal dengan kondisi genting seperti ini.
yang seharusnya kita bahu membahu (Jihat) untuk melawan ujian ini bersama-sama.

Kita kebanyakan takut terinfeksi Virus Corona ini, tapi kita sering lupa untuk takut KEPADA-NYA, yang menciptakan semua makhluk dan termasuk Virus Corona ini.

Allah SWT tunjukan Negara-Negara, Provinsi dan Kecamatan yang ada di sekitar kita yang tertular dan Pandemi Virus ini, Allah perlihatkan di depan mata kita. Tetapi kita masih saja lalai untuk mingkatkan AMAL IBADAH, berlomba-lomba dalam kebaikan dan bekal Akhirat kita nanti kepada-Nya.

Astagfirullah.

Semoga menjadi renungan kita bersama.

~Arie Anggara

Minggu, 15 Desember 2019

Mencari Amal dari pintu AMANAH.

Tanpa kita sadari kita banyak mengemban amanah.
Siapapun itu, dimanapun, dan apapun profesinya.

Minsalnya, seorang Ayah yang mempunyai amanah untuk menafkahi keluarganya sekaligus memberi contoh yang baik untuk anak-anaknya.
Serta sebaliknya, Seorang anak yang harus berbakti kepada kedua orang tuanya (sekolah dan belajar dengan sunggu-sungguh, membantu orang tua, patuh terhadap orang tua dll.).
Seorang kaka yang menjadi tauladan untuk adik-adiknya.

Seorang dokter mempunyai amanah bagaiaman pola hidup bersih dan sehat yang Ia miliki (Tidak merokok, berprilaku sehat.).

Seoranag Guru yang bertanggung jawab akan Ilmu serta pemahaman yang benar untuk pelajar-pelajarnya.

Seorang Pelajar/ mahasiswa mempunyai amanah untuk kehidupan bermasyakat dengan gelar TERPELAJAR dan MAHASISWA yang Ia sandang.

Seorang pemimpin yang mempunyai amanah untuk merangkul, mendorong, memotivasi dan memanaj kepemimpinan yang Ia pegang.

Serta politisi, pejabat, aparat, karyawan, olahragawan dll..

Cukuplah mengemban Amanah yang ia pegang untuk menjadi CONTOH dan TELADAN untuk orang lain.

Senin, 28 Januari 2019

Pesona Alam Baduy di Ujung Kota Jakarta



Selama di Jakarta kampung Baduy adalah destinasi yang aku catat dalam pikiranku, Alhamdulillah mimpi itupun tercapai.
Kisah ini bermulah dari obrolan kecil yang akhirnya di temukan dengan orang-orang yang tidak dikenal, mereka satu keluarga besar yang kompak penuh ceria. Mungkin serpihan mimpi ini akan ku tulis sebagai pengingat ketika aku memiliki keluarga yang cukup besar dan mengajak mereka bersama-sama seperti keluarga ini.



Hari itu seperti biasanya saya bermain ke warung Om Hadi sambil ngobrol politik, maklum lagi bulan-bulan dan tahunya nya politik, Om Hadi sesekalai memberi wejangan semangat apalagi di eranya akhir Zaman di tenga-tengahnya gemerlap kota Ibu Kota.


Om, hadi menunjukan Chat Group Whatsapp keluarganya yang berencana untuk mengunjungi perkampungan orang-orang Baduy di Provinsi Banten, tepatnya Kabupaten Lebak Banten pada tanggal 26-27 Januari 2018.
Akupun menceritakan tentang harapan itu untuk mengunjungi Kampung Baduy dan Om Hadi menawarkan ajakan untuk kesana. Sebenanya tanggal 26-27 merukan hari kerja di kantor, tanpa pikir panjang saya mencoba menghubungi rekan kerja untuk bertukar pikiran untuk mengajukan pindah shift kerja.
Singkat cerita karna alasan keluarga, Om Hadi tidak bisa pergi kesana dan Ia tetap menyarankan saya tetap ikut dengan menghubungi Om Endang, menimbang-nimbang akhirnya aku mendorong diriku untuk ikut kekampung Baduy. Semalam sebelum keberangkatan saya menghubungi Om Endang untuk ikut join trip kebaduy bersama keluarga besarnya.
Itulah latar belakang cerita singkat perjalanan ini hehee, semoga bermanfaat.

****

persiapan keberangkatan
Tanggal 26 Januari 2019 perjalanan ini dimulai dari Stasiun pondok Ranji ke Rangkas Bitung bersama-sama rombongan keluarga Om Endang pada pukul 8.00 Wib dengan kereta Comuterline  Tanah Abang – Rangkas Bitung, ongkosnya lumayan murah, hanya 7.000 rupiah. 


Jembatan Akar
Pukul 9.10 kami sampai di stasiun Rangkas Bitung, dan berjalan ke Terminal Rangkas Bitung untuk menaiki mobil pesanan Om Endang untuk menuju Destinasi Jembatan Akar dengan menggunakan angkutan Umum, mobil Elf. Tepat Jam 13.00 kami sampai diperkampungan, dan kami harus melanjutkan perjalanan selama dua jam untuk mengunjungi Jembatan Akar.

Perjalanan ke Jembatan Akar



Perjalanan ini melalui jalanan kerikil bebatuan dan dilanjutkan dengan perjalanan perkebunan, kiri kanan kulihat saja banyak pohon Durian hehe bukan pohon Cemara.





Hasil bumi kampung Baduy
Kata Om Endang, kami telat 2 minggu dari musim durian, karan yang terlihat hanyalah daun durian dan satu dua buah durian yang masih bergelantungan. Tetapi kami masih bisa untuk mencoba durian yang masih banyak dari para penjual-penjual yang berjalan keluar masuk hutan dengan memikul durian dari dalam hutan.

Alam baduy memang begitu suburnya, saya begitu heran kenapa banyaknya rambutan dihutan tidak ada yang mau mengambilnya, ternyata rambutannya melimpah ruah, hasil buminya juga banyak seperti Petai, Pisang dan hasil pertanian lainnya.

Perjalanan ke Terminal Ciboleger
Setelah mengunjungi Jembatan akar kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Mobil Elf ke Terminal Ciboleger.

Dari arah luar terminal hasil tangan masyarakat Baduy sudah terlihat disini, dibibir terminal seperti kain tenun, mainan kunci, gelang, baju batik baduy, dll.

Kami melanjutkan perjalanan ke dalam hutan untuk menuju perkampungan baduy yaitu Kampung Balingbing, Bukan Balimbing ya, masyarakat disini menyebutnya masih Baduy luar yang kurang lebih 2 KM dari terminal Ciboleger. Perjalanannya seperti jalan setapak dengan susunan bebatuan alam.

Kata Om Endang, untuk mengunjungi Baduy dalam harus menempuh perjalanan selama 6 Jam atau 7 Km perjalanan. Menurutku Baduy luarpun juga cukup jauh perjalanannya wkwkw.
Selain dikelilingi oleh hutan layaknya seperti perjalanan mendaki sebuh gunung, perjalanan ke kampung badui ya Naik turun Bukit.

Proses penenunan
Kami tiba di Kampung Balingbing kurang lebih jam 17.30 Wib, kami tinggal bersama dengan orang-orang Badui di sebuah rumah panggung setinggi kurang lebih 50 - 70 cm dari tanah.

sayapun masih menunggu bagaimana orang-orang baduy menyambut sunyinya dan gelapnya malam di kampung Baduy. Permukiman warga Baduy gelap gulita tanpa Obor, lampu damar ataupun lampu-lampu lainnya. Hanya mereka menggunakan Center sebagai penerangan untuk berjalan ditengah malam ataupun untuk kedapur. 
Inilah kehidupan dikampung Baduy yang yang nyaman dan tentram yang terlepas dari hiruk pikuk dari binger-bingar kehidupan dunia.

Karana kelelahan, kamipun terlelap pada pukul 20.00 malam dan terbangunkan oleh aktifitas-aktifitas masyarakat badui di waktu subuh, alhamdulillah dari pengakuan beberapa orang-orang badui mereka sebenarnya adalah muslim.

Perjalanan Pulang Keluarga Cemara
Sebelum melanjutkan perjalanan pulang, kami mengunjungi berepa kampung yang berada di ujung kampung Balingbing, sambil melihat masyarakat Badui menenun kain dan menjajakan kerajinan mereka kepada Kami.

Rabu, 16 Januari 2019

A Letter to Bintang


Aku terbiasa hidup di samudra dengan ombak yang begitu kencang. Semasa kecil aku suka melihat bintang, menghabiskan kesendirian sambil menatap langit berharap sang bintang datang walaupun dalam keadaan hujan badai, aku masih tetap menunggu dan tetap berharap bintang akan datang berkelip-kelip.
Tentunya kisah ini bukan cerita pungguk merindukan bintang, eh bulan maksutnya. Dan aku bukanlah pungguk.

Namaku adalah Laut, Lautan.
Ingin rasanya berada disana disamping sang bintang untuk melihat betapa indanya bumi ini diciptakan dan aku bisa semakin mengingat-Nya. Dan mungkin aku bisa melihat sahabat-sahabat ku yaitu pasir pantai, bebatuan, karang, pegunungan dan serta sahabat-sahabtku di sisi bumi lainnya.
Tapi apa daya aku tidak bisa kesana.
beberapa teman-temanku bisa mengaungi samudra, tapi ombak yang ganas membuatku tak bisa sampai.
Semangat itu sesekali timbul kalau aku melihat bintang.


Hey, kau tak tahu betapa cemburunya aku melihat mu tinggi disana disanping sang bulan. Tiap malam ketika aku bersahaja dengan lelahku sampai tersapu dibibir pantai, duduk di sela-sela pasir. Ingin sekali rasanya melihat dari dekat dan bercerita bnyak tentang keseharianku menghabiskan malam disamping mu.


Aku terlalu memikirkanmu, berharap selalu disampingmu.
Dan kita tahu itu, jarak memisahkan kita dan waktupun menjaga kita.
Tetapi aku berfikir lagi, itu nafsu. Aku takut ini terlalu berlebih-lebihan.

maaf, terkadang aku selalu bercerita kepada Awan. Ya, Ia awan biru. Aku selalu melihat awan biru, aku selalu tersenyum melihat awan ketika aku lelah memikirkan dunia, tetapi aku tidak memiliki rasa.
Kadang-kadang aku biarkan sang awan tertiup angin kemanapun arahnya bersingga, aku biarkan itu terjadi, karna aku ingin alami seperti mana peruntuknya.
Jangan memikirkanku, tetaplah maju..
Masih ada pantai yang menghiburku, masih ada gunug yang iseng mengganggu ku, dan masih ada karang yang sekarng musuhku mungkin teman hidupku.

Tetaplah merona berkelip bintang dan kau harus pastikan itu, karna waktu akan terus berjalan.
Aku suka melihatmu berkeli-kelip dari kejauhan.

Salam,
Lautan, Arie Anggara.