Minggu, 31 Januari 2016

MENGAPA ORANG TUA SELALU SEPERTI INI, SELALU BANGGA TERHADAP ANAKNYA




Begitulah orang tua, selalu bangga dengan anaknya.
Tanpa kita sadari ataupun kita sadari sekalipun, orang tua tetaplah begitu selalu membangga-banggakan dan senang bercerita tentang anaknya. Inilah naluri ketulusan orang tua kepada sang anak.
Tetapi kebanyakan dari kita mengapa kita tidak perna mencoba memahami hal tersebut? Mengapa?
Ini bukan berbicara masalah pujian oleh orang tua tehadap anak, tetapi pertanyaannya mengapa harus membangga-banggakan anaknya?

Ketika Sekolah dasar, ada Orang tua selalu bangga dengan anaknya ketika anaknya mendapatkan nilai rata-rata 6 ataupun 7, padahal anak yang lain banyak yang mendapatkan nila rata-rata 8 ataupun 9. Yang terpenting bagi orang tua adalah bahwa anaknya tidak memiliki nilai rapor merah ataupun anaknya tidak naik kelas  seperti anak yang lainnya.

Ketika disaat sang anak menginjakan kakinya di perguruan tinggi, ada orang tua selalu bngga dengan anaknya yang kuliah di perguruan tinggi Swasta dan tanpa beasiswa untuk kuliahnya, tetapi padahal disekitarnya bnyak anak-anak yang bisa kuliah di perguruan tinggi negri yang bagus serta ada sebagian anak yang bisa kuliah di luar negri dan memiliki beasiswa untuk pendidikan. Ini lah orang tua, yang terpenting baginya ialah, sang anak bisa kuliah dengan baik dan memiliki pendidikan, pengetahuan serta tidak bernasib sama dengannya.

Dan juga ada orang tua yang bisa merasa senang dan bngga ketika didalam pergaulan anaknya hanya merokok dan tidak minum-minuman keras, narkoba dan mencuri padahal disekitarnya masi banyak anak-anak yang bertingkah baik, sopan, soleh dan tidak merokok.
Bagi orang tua, yang terpenting baginya iyalah pergaulan, perilaku anaknya tidak rusak dan tidak melakukan tindakan kriminal lainnya seperti yang dilakukan orang lain.
Masi banyak contoh-contoh yang lainnya tentang kebanggaan orang tua terhadap anaknya.
Ini lah orang tua kita.
Sebagai seorang anak marilah kita mencoba memahami hal ini.
Apa adakah perasaan dari kita untuk membahagiakan mereka lebih dari ini?
Yang secara pasti mereka selalu membangga-banggakan anaknya, inilah rasa cinta dan ketulusan orang tua terhadap anaknya.
Serta Sebagai penghibur dan penyemangat dalam kehidupan dalam aktivitas keseharian di usia tuanya untuk sang anak.

Selasa, 22 September 2015

Gula Rian yang hilang

Arie Anggara Jambi
Malam itu Rian berdiri tegar walaupun dinginnya malam yang semakin perlahan semakin menusuk pori-pori yang ada ditubuhnya, tas ini masi disandangnya dan tas kecil ini masi dipegangnya.

Kecerian di wajahnya terlihat, canda tawanya terhanyutkan saat duduk dan bercngkrama bersama.

Lelah yang Ia alami hilanglah suda ketika bersama, melihat wajah-wajah sayu masa depan dan Ia bangga bisa berada di antara mereka, kepintaran mereka memacunya untuk mengiringi dan mengikuti mereka.

Tangannya tak hentinya mencatat akan ilmu-ilmu yang terurai dari bibir dan catatan-catatan yang ada di depan.


Arie anggara Jambi
Pagi itu begitu dingin untuk Rian rasakan, namun motivasi semangat lingkungan mendorongnya untuk seperti mereka. Sesekali Rian mencoba untuk bernyanyi yang terkadang ia tidak tahu lagu itu untuk siapa Rian ungkapkan.




Arie Anggara Jambi


Hatipun berdetak melihat senyuman yang berada diantara kepala-demi kepala itu.


Sesekali Ia mencoba untuk menundukkan kepala, namun kekutan di hatinya begitu kuatnya dan hal ini hanya dua kali Rian rasakan.

"Subhanallah" terucap di hati Rian, Ia melihat wajah optimis dan tenang terpancarkan dan terlihat langkah di zaman sekarang.

@ArieAnggara28
https://www.facebook.com/arie194

Rabu, 20 Mei 2015

Kenapa Kita Seperti Ini, Buta Hati?

Berbicara kekurangan dan atau keterbatasan pasti tidak ada habisnya.

Tetapi sebagai mana kita menjadikan kebahagian itu merupakan dari keterbatasan yang kita miliki !

Kebahagiaan tidak ada ruang dan waktu. Kebahagiaan tidak hanya dimiliki oleh orang-orang yang kaya, memiliki gedung yang banyak, Pendidikan yang tinggi dan berpangkat. Kita sendiri bisa menciptakan peluang dan potensi kebahagiaan itu. Seperti adanya harapan, keinginan, dan kebutuhan.

Kita perna melihat orang yang secara fisiknya tidak sempurna seperti orang lainnya. Tetapi mereka masi bisa tersenyum, bercanda, menyapa dan lain-lainnya. Mereka tidak perna bercerita keterbatasan yang miliki, seolah-olah mereka berbicara bawha mereka baik-baik saja.

Tetapi mengapa kita selalu mengeluh, buta hati, gelap mata, dan merasa kekurangan ?

Senin, 04 Mei 2015

RENI, BUNGA DESA YANG LAYU



Reni bunga simerah bersinar.
Polos merona bersandar kemaluan.
Menggoda kaku diatas tangkai.
Siap dipetik siapa saja.

Dirampas, disentuh sikumbang jalang.
Kumbang berganti kebunga lain.

Berharap diri di temani Vas.
Kini kelopak memaksa gugur.
Menghitam layu tak lagi merah.
Kini bunga kesepian.
Tertutup malu dibalik dedaunan.

Meratap hari degan kesedihan.
Kini Reni sibunga malang.

S
eorang gadis desa yang cantik dan polos, namanya Reni yang sedang menginjakkan kakinya di kelas 2 SMA.

Karna terlalu polos dan dangkal untuk memaknai cinta, Reni terpengaruh cinta yang salah.
Dalam kehidupan sehari-hari baik di sekolah dan di desa, Reni selalu digoda baik teman-teman sekolah, lingkungan desa dan dimanapun Reni berada. Tak jarang yang menggodai Reni adalah pemuda ganteng, manis dan anak orang kaya.
Karna baru pertama mengenal cinta, Reni mulai bermain api yang ada ditangannya.
Karna sangat mencintai Rizal, Setiap ajakan Rizal, Ia selalu bersemangat untuk mengikutinya dan jarang untuk mengeluarkan kata-kata “tidak” ataupun “tidak bisa”.
Hingga terlalu asik bermain cinta, Reni tidak bias mengendalikan api cinta yang Ia pegang, Rizal merampas mahkotanya yang Ia jaga.
Tak berasa gantian bulan dan hari-hari yang dilalui, perut yang di bopong Reni semakin berisi dan besar.
Sekarang orang-orang tidak lagi memandang Reni sebagai anak yang rajin, sopan, dan selalu mengikuti kajian keagamaan yang ada dilingkungannya.
Kemanisan kata-kata Rizal tidak perna lagi Ia dengar dan tidak lagi menampakan diri.
Kini Reni sendirian.

Jumat, 14 November 2014

Desa yang jauh di dalam dasar hati


Bukit bulan ? Wow. ..

Sebuah rentetan desa-desa yang masih alami dengan masyarakatnya yang akrab, damai, rukun dan saling berbagi satu sama lainnya. hasil pertanian yang melimpah dengan sawah-sawa tanpa pupuk dan pestisida yang ada di Kecematan Limun,  Kabupaten Sarolangun tepatnya Provinsi dimana saya dilahirkan dan saya cintai yaitu Jambi.
Suda sembilan tahun tepatnya saya tidak kesana, dulu saya sempat bersekolah di sana hingga menginjak kelas 3 SD, desa Mersip tengah namanya tempat dimana Ibu saya bertugas di SD tersebut.

karna saya bertempat tinggal di perumahan SD saya mengenal betul lingkungan yang ada di sekitar rumah. seperti lereng gua-gua yang ada di belakang SD yang tingginya seperti tumpukan-tumpukan gedung perkotaan yang ada di kota jakarta, yang setiap siangnya setelah kami melewati untuk mandi bersama teman-teman di sungai di samping sawah.
berlarian melewati lorong-lorong gua yang didalamnya begitu indahnya dan sesekali saya di biarkan sendiri di tinggal oleh teman-teman karna keasikan melihat pesona indahnya ciptaan Allah ini.

hari ini tepatnya tanggal 20 juli 2014 karna libur kuliah dengan kedua teman saya yaitu joni dan otop untuk menuju kesana.
jalan berdebu, lubang, kiri dan kanan dengan curmnya..
huaa. . berjalan serasa di atas awan..
gak percaya, ini buktinya.


































seperti ini lah perjalanan yang kami jalani pada hari ini, kira-kira para pembaca bisa banyangin gak perjalanan yang keluarga saya  dan masyarakat yang disana untuk kesana pada 17 tahun yang lalu. sedangkan sekarang perjalanan masi seperti ini dengan tanah kuning keemasannya yang biasa ketika musim hujan akan sangat licin dengan curam yang siap sedia menerkam dari sisi kiri dan kanan.

















jelang sekitar 4 jam perjalanan yang kamii jalani dengan semangat para petualang, haa. .
semuanya terbalas dengan keindahan alam Bukit Bulan. 
















bersambung. . .

Kamis, 13 November 2014

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN DALAM ERA PEMERINTAHAN JOKOWI-JK

Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Penyelesaian masalah pendidikan tidak semestinya dilakukan secara terpisah-pisah, tetapi harus ditempuh langkah atau tindakan yang sifatnya menyeluruh. Artinya, kita tidak hanya memperhatikan kepada kenaikkan anggaran saja. Sebab percuma saja, jika kualitas Sumber Daya Manusia dan mutu pendidikan di Indonesia masih rendah. Masalah penyelenggaraan Wajib Belajar Sembilan tahun sejatinya masih menjadi PR besar bagi kita. Kenyataan yang dapat kita lihat bahwa banyak di daerah-daerah pinggiran yang tidak memiliki sarana pendidikan yang memadai. Dengan terbengkalainya program wajib belajar sembilan tahun mengakibatkan anak-anak Indonesia masih banyak yang putus sekolah sebelum mereka menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun. Dengan kondisi tersebut, bila tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan, sulit bagi bangsa ini keluar dari masalah-masalah pendidikan yang ada, apalagi bertahan pada kompetisi di era global. [1]
Namun di sisi lain, menurut anggota Komisi X DPR RI, Nasrullah Larada, nasib dunia pendidikan di Indonesia tidaklah semulus pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, anggaran 20 persen untuk pendidikan dari total APBN, belum mampu dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan pendidikan. Sehingga wajar jika di daerah-daerah masih banyak disaksikan kondisi fisik sekolah yang sangat memprihatinkan baik di tingkat dasar hingga menengah. Batuan Operasional Sekolah (BOS) dan kampanye sekolah gratis, bukan menambah kualitas dan mutu peserta didik. Melainkan justru memperburuk jaminan kualitas pendidikan ke depan.[2]
Data dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin, 2012), menyebutkan bahwa sekitar 1,3 juta lulusan sekolah dari SD hingga Sarjana, berpotensi menganggur akibat tidak seimbangnya jumlah lulusan dan ketersediaan lapangan kerja.. Kemudian merujuk Survey UNDP 2012, kualifikasi sumber daya manusia Indonesia berada di nomor urut 121, Index Kualitas Pendidikan (Education Development Index, EDI) Indonesia adalah 0.577, tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga di ASEAN.
Padahal pada tahun 2015 integrasi kawasan perdagangan bebas ASEAN akan dimulai. Maka tidak ada pilihan kecuali menyiapkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang siap dan kompetitif, agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dinikmati pertama-tama oleh warga negaranya dan bukan oleh para pekerja asing yang kelak akan membanjiri negeri ini. Oleh karena itu, dibutuhkan peran civil society yang dapat mendorong Pemerintah untuk menyiapkan kebijakan di bidang pendidikan yang membangun daya saing, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Civil Society harus berperan dalam mengubah paradigma pendidikan, dari sekedar mencerdaskan bangsa, menjadi senjata untuk membangun perilaku, sikap mental, budaya, dan karakter unggul, serta peduli terhadap sesama, lingkungan dan sosial.[3]
Ketika memutuskan untuk maju sebagai calon presiden dalam pemilihan presiden tahun ini, Jokowi mencetuskan "revolusi mental". suatu strategi untuk membangun karakter bangsa, yang dapat mencegah dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme serta sikap intoleran terhadap perbedaan, yang selama ini masih ada dalam budaya Indonesia.
Jokowi juga menyatakan pembangunan karakter bangsa tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan. Untuk mendukung pengembangan sektor pendidikan dan kesehatan, Jokowi mengatakan akan membuat program Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar, seperti yang pernah dilakukan di DKI Jakarta. Jokowi juga mengatakan dia akan mengimplementasikan e-governance sebagai upaya untuk mengurangi korupsi di birokrasi.[4]
Untuk mengembalikan jalan ideologi bangsa, Jokowi-JK menawarkan konsep Trisakti. Jalan Trisakti menjadi basis dalam pembangunan karakter bangsa ke depan. Joko Widodo-Jusuf Kalla membuat sembilan agenda prioritas yang disebut Nawa Cita. Salah satu prioritasnya adalah melakukan revolusi karakter bangsa.
Revolusi karakter bangsa, menurut Jokowi-JK dilakukan melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional. Yang mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan. Yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme, dan cinta tanah air. Pasangan ini juga akan mengevaluasi model penyeragaman dalam sistem pendidikan nasional. Termasuk penyeragaman UAN dan pembentukan kurikulum yang menjaga keseimbangan aspek muatan lokal dan nasional.[5]
Anggota Tim Sukses Jokowi-JK, Rokhmin Dahuri, mengatakan Indonesia sebagai salah satu pendiri ASEAN beserta empat negara lain mempunyai posisi yang cukup strategis di ASEAN. Bahkan Indonesia dianggap sebagai big brother di ASEAN. Joko Widodo-Jusuf Kalla, bakal melakukan reformasi di bidang pendidikan. Hal itu untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia saat memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.[6]
Hasil riset "The Indonesia Institute" mengenai jaminan sosial menyebutkan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla lebih berpengalaman dalam pemberian jaminan sosial bidang pendidikan melalui Kartu Jakarta Pintar. Peneliti TII Arfianto Purbolaksono, Dia mengatakan pasangan Jokowi-JK memiliki program yang dinamakan Kartu Indonesia Pintar (KIP), merupakan kelanjutan dari KJP yang telah dilakukan Jokowi. Menurut dia, program KJP selama dua tahun ini memiliki kekurangan dan kelebihan namun dapat dijadikan tolak ukur pelaksanaan KIP. Program jaminan sosial merupakan kewajiban negara namun dalam pelaksanaannya diperlukan manajemen kontrol dan pengawasan agar program tersebut tepat sasaran.[7]
Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang menjadi salah satu program utama Joko Widodo kini harus dihentikan sementara. Pasalnya, dalam pelaksanaannya masih banyak ditemukan siswa yang berasal dari keluarga mampu menerima KJP yang seharusnya hanya diperuntukkan bagi keluarga tidak mampu. menutur Kepala Sudin Dinas Pendidikan Dasar (Dikdas), Sujadiyono, selama KJP dijalankan pihaknya menemukan sejumlah kelemahan terkait dengan siswa mampu yang tidak seharusnya mendapatkan bantuan pendidika.[8]
Kepala Dinas Pendidikan DKI Lasro Marbun mengungkapkan, kebutuhan dana untuk Kartu Jakarta Pintar (KJP) tahun 2014 mencapai Rp 1,4 triliun. Namun, yang dianggarkan baru sebesar Rp 723,32 miliar, untuk memastikan penerima KJP tepat sasaran, pihaknya pun melakukan verifikasi data. Hal itu dilakukan agar dapat diketahui jumlah anggaran tambahan yang dibutuhkan. penyaluran dana penerima KJP memang banyak salah sasaran. Sementara, sesuai Peraturan Mendagri (Permendagri) No 32 Tahun 2011 dan Permendagri No 39 Tahun 2011 Pasal 36 disebutkan permohonan dana hibah dan bansos harus dilakukan pengajuan per tahun. Karena itu, pihaknya saat ini sedang melakukan pendataan dan verifikasi ulang penerima KJP.[9]
Sejumlah pengamat menyebutkan kelemahan Jokowi adalah dia minim pengalaman memimpin di tingkat nasional dan hubungan internasional.[10]  Menurut Sekretaris Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Hankam, Letjen TNI Purn Romulo Simbolon, cawapres Jusuf Kalla (JK) pernah mengatakan bisa rusak negara ini bila dipimpin oleh Jokowi. Gubernur Jakarta nonaktif itu tidak akan dapat bertahan lama sebagai presiden bukan semata karena factor goyangan dari luar. Tapi justru karena faktor goncangan dari dalam parpol pendukungnya. Namun dalam menjalankan roda pemerintahan, presiden terpilih harus mendapat dukungan politik dari partai di parlemen menjadi hal lain yang tersendiri.[11]




Jumat, 31 Oktober 2014

SENYUM ANAK-ANAK INDONESIA


Tingginya angka kekerasan dan eksploitasi terhadap anak menimbulkan keprihatinan dari berbagai pihak. Diduga kuat, maraknya kasus anak karena paradigma salah dalam mendidik anak yang jadi budaya. Saat ini banyak yang beranggapan jika ingin mendidik anak jadi disiplin dan baik harus dengan cara dipukul atau dimarahi. Paradigma semacam itu masih sangat melekat dalam lingkungan keluarga Indonesia. Tak heran jika angka kekerasan pada anak terus bertambah. Jika kekerasan ini tidak segera dihentikan, bukan tidak mungkin generasi muda ke depan akan melahirkan anak muda yang menonjolkan kekerasan dibanding intelektual.
Kekerasan terhadap anak adalah tindak kekerasan secara fisik, seksual, penganiyaan emosional, atau pengabaian terhadap anak. Di Amerika Serikat, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mendefinisikan penganiayaan anak sebagai setiap tindakan atau serangkaian tindakan wali atau kelalaian oleh orang tua atau pengasuh lainnya yang dihasilkan dapat membahayakan, atau berpotensi bahaya, atau memberikan ancaman yang berbahaya kepada anak. Sebagian besar terjadi kekerasan terhadap anak di rumah anak itu sendiri dengan jumlah yang lebih kecil terjadi di sekolah, di lingkungan atau organisasi tempat anak berinteraksi.

Menurut Sekertaris Jenderal Komnas Anak Samsul Ridwan, angka pengaduan kasus pelanggaran hak anak meningkat tajam dibandingkan tahun lalu. Dan sepanjang tahun 2013 masih didominasi oleh kekerasan terhadap anak."Jumlah pengaduan yang kami terima meningkat saat ini telah diterima laporan sebanyak 3.023. Angka ini menunjukan 60 persen terjadi peningkatan dibandingkan tahun lalu. Dan kasus kekeraaan terhadap anak masih mendominasi," kata Samsul, Jakarta, Jumat (20/12/2013). Tahun 2013 ini kasusnya ada 1.620 dengan rincian kekerasan fisik 490 kasus (30 persen), psikis 313 kasus (19 persen), dan paling banyak kekerasan seksual 817 kasus (51 persen). Artinya setiap bulannya hampir 70-80 anak menerima kekerasan seksual," Sedangkan kasus fisik berlatar belakang kenakalan anak 80 kasus (8 persen), dendam atau emosi 147 kasus (14 persen), ekonomi 62 kasus (6 persen), persoalan keluarga 50 kasus (5 persen) dan lain-lain 145 kasus (14 persen).
Salah satunya adalalah kasus pada Iqbal yang di rawat di RSUD Koja, Jakarta utara. Ia mengalami luka-luka mengenaskan di sekujur tubuhnya yang dipukul, dipaksa mengemin dan mengamen, bahkan lidahnya dipotong, disundut rokok oleh Dadang yang dilatar belakangi oleh kekesalan dengan ibun Iqbal karena menolak cintanya. Dengan hal ini dengan mudahnya orang-orang untuk melakukan kekerasan kepada anak, padahal masa kanak-kanak adalah wajib untuk dilindungi bukan sebagai ketakutan untuk mereka dan anak-anak adalah calon penerus generasi bangsa dan sebagai indikator kemajuan, gambaran dari suatu bangsa.
Untuk mengatasi masalah tersebut menurut Ketua Umum Komnas PA Arist Merdeka Sirait sudah menjadi tanggung jawab bersama antara orangtua, masyarakat dan pemerintah serta negara. "Kasus ini menjadi tanggung jawab bersama, semua pihak perlu mengawasi dan membantu mengatasi serta mencegah terjadinya kasus kekerasan terhadap anak," kata Arist. 
Kak Seto menyarankan di setiap RT dan RW harus ada Satgas Perlindungan Anak. Satgas ini yang melaporkan pada instansi terkait jika terjadi kekerasan di lingkungannya.
semoga dengan banyaknya kasus kekerasan yang ada di Indonesia terutama kepada anak, menjadi peratian oleh pemerinta, sehingga anak bangsa bisa hidup aman dan nyaman dalam beraktifitas.             "Arie Anggara